Minggu, 10 Juli 2011

Guru

Kalau Kau merasa menderita menjadi Guru,
Rasakan, disitulah Allah bersinggasana,
sampai kesulitan dan kemiskinan itu bosan bersamamu.
Cintai Penderitaan itu.
Kepedihan.
Duka,
Lara.
Disitu ada Allah.

"Bukan saya menyuruh Anda miskin,
tapi Anda sebagai Guru, mulia sekali jika Anda
bisa memahami segala Rahasia Ilahi"
(Dik Doank)

CIMATA SIMPE

Cimata Simpe

cimata simpe,
nepo anjeun malati paranti jangji
sawangan nangtung na layung Bandung,
kembang kaduhung ngadaun sembung
neundeun ibun, mawa kanyaah… ceuyah

cimata simpe, mepende hate
sawangan lanjung ngalanglayung
neundeun tresna dina hanjuang siang
keur anjeun malati paranti jangji

kiwari, wanci peuray miraray
kalangkang anjeun na kongkolak
mangkak lir malati paranti jangji.
***
Tasikmalaya 1997

Terlahir Kembali Menjadi Guru

Sahabat….!
Tak terasa seiring dengan lajunya waktu, kebersamaan kita akan segera berakhir, rasanya aku masih ingin bersama kalian, sahabat-sahabat guru, staf pengajar yang semuanya penuh dengan inspirasi. Masih teringat dibenakku, ketika aku mendapat panggilan untuk mengikuti Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI), aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Sekolah apa lagi ini ? sudah banyak rasanya aku mengikuti seminar-seminar, pelatihan-pelatihan pendidikan, tak satupun yang membawa perubahan pada diriku. Cara mengajarku, sikapku terhadap siswa, masih seperti yang dulu, ketika aku lulus SPG. Tapi sekarang datang lagi yang menawarkan untuk mengikuti program SGEI, semula aku tidak begitu yakin akan membawa perubahan pada diriku. Tapi aku ingin mencoba, mengikuti program tersebut. Hari pertama masuk, rasanya seperti anak-anak yang diajari bermain, dengan Yel-yel, permainan sampai kebiasan menyapa dengan ucapan Apa Kabar Hari Ini ? dan aku harus menjawab Alhamdulillah luar biasa Allahu Akbar ! belum lagi diajari Senam Jari, Senam Muka sampai-sampai Senam Kapak-kapak yang diajarkan pak Zainal, rasanya lucu sekali, apalagi dengan usiaku yang tidak muda lagi, risihnya rasanya aku untuk mengikuti semua itu.

Sahabat…!
Semula aku enggan menerapkan yel-yel seperti itu, apalagi disekolahku hal itu tidak biasa sama sekali, kalaupun tidak dikatakan tidak lazim, bahkan ketika aku bercerita terhadap teman-teman guru disekolahku tentang SGEI, mereka berkomentar, bahwa itu tidak cocok untuk usia Sekolah Dasar, itu untuk Taman Kanak-kanak kata mereka. Tapi sahabat, berkat kalian semua staf pengajar yang penuh inspirasi, aku tak hiraukan komentar teman-teman guru di sekolahku. Hari pertama aku menerapkan Yel-yel, Senam Jari, dan permainan lainnya. Kalian tahu sahabat, apa komentar teman-teman guruku “Kelas Bapak Berisik !” menganggu kelas yang lain. Bahkan ada juga yang mengatakan kelas “Kelas Bapak anak-anaknya tidak bisa diam !” Aku sempat berpikir, salahkah aku menerapkan system pembelajaran seperti yang ku dapatkan dari SGEI ? tapi Sahabat…kalian tahu apa komentar murid-muridku ? Subhanallah mereka semua mengatakan, “ Hari ini kami senang belajar dengan Bapak.” Dan kalian tahu bagaimana situasi belajar saat itu, semua murid-muridku aktif, berani bertanya, mau menjawab pertanyaankku, meskipun tidak semuanya benar jawaban mereka. Sahabat rasanya aku senang sekali, melihat wajah-wajah muridku yang ceria, aku tidak pedulikan semua komentar teman-teman guruku,rasanya akupun seperti terlahir kembali menjadi sebagai seorang guru.

Sahabat….!
Kini aku yakin SGEI tidak seperti yang aku duga semula, seperti seminar-seminar, pelatihan-pelatihan pendidikan yang pernah aku ikuti, ternyata SGEI mampu merubah gaya mengajarku, gaya mengajar yang disukai murid-muridku, cara mengajar yang “SERSAN”( Serius tapi santai ) penuh dengan keceriaan. O, ya sahabatku sebelum aku mengakhiri surat ini, aku mengucapkan terima kasih, untuk sahabat-sahabatku yang telah menuliskan surat untukku pada waktu kita di Teacher Supercamp, semua surat itu aku simpan.
Mudah-mudah semua surat dari kalian akan mampu memberikan motivasi bagiku, dan mudah-mudahan Aku menjadi Guru Yang Profesional dan Guru yang penuh inspirasi. Terakhir terima kasih untuk bu Evi, bu Rina, pak Zainal, pak Agung, pak Asep dan semuanya staf SGEI, yang telah memberiku kesempatan untuk belajar di Kampus Sekolah Guru Ekselensia Indonesia.
Salam Guru Penuh Cinta.

Dari Sahabatmu,


UGAN SUGANDI